BURINTI-LIAR

Selamat Datang di blog Anak Mamasa
Silakan Dilihat

Kamis, 20 Juni 2013

skripsiku

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
       Kebijakan otonomi daerah dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, secara eksplisit memberikan otonomi yang luas kepada pemerintah daerah untuk mengurus dan mengelola berbagai kepentingan dan kesejahteraan masyarakat daerah. Pemerintah Daerah harus mengoptimalkan pembangunan daerah yang berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, pemerintah daerah dan masyarakat di daerah lebih diberdayakan sekaligus diberi tanggung jawab yang lebih besar untuk mempercepat laju pembangunan daerah.
           Sejalan dengan hal tersebut, maka implementasi kebijakan otonomi daerah telah mendorong terjadinya perubahan, baik secara struktural, fungsional maupun kultural dalam tatanan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Salah satu perubahan yang sangat esensial yaitu menyangkut kedudukan, tugas pokok dan fungsi kecamatan yang sebelumnya merupakan perangkat wilayah dalam kerangka asas dekonsentrasi, berubah statusnya menjadi perangkat daerah dalam kerangka asas desentralisasi. Sebagai perangkat daerah, Camat dalam menjalankan tugasnya mendapat pelimpahan kewenangan dari dan bertanggung jawab kepada bupati/wali kota. Pengaturan penyelenggaraan kecamatan baik dari sisi pembentukan, kedudukan, tugas dan fungsinya secara legalistik diatur dengan Peraturan Pemerintah. Sebagai perangkat daerah, Camat mendapatkan pelimpahan kewenangan yang bermakna urusan pelayanan masyarakat. Selain itu kecamatan juga akan mengemban penyelenggaraan tugas-tugas umum pemerintahan.
       Camat dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh perangkat kecamatan dan bertanggung jawab kepada bupati/wali kota melalui sekretaris daerah kabupaten/kota. Pertanggungjawaban Camat kepada bupati/wali kota melalui sekretaris daerah adalah pertanggungjawaban administratif. Pengertian melalui bukan berarti Camat merupakan bawahan langsung Sekretaris Daerah, karena secara struktural Camat berada langsung di bawah bupati/wali kota. Camat juga berperan sebagai kepala wilayah (wilayah kerja, namun tidak memiliki daerah dalam arti daerah kewenangan), karena melaksanakan tugas umum pemerintahan di wilayah kecamatan, khususnya tugas-tugas atributif dalam bidang koordinasi pemerintahan terhadap seluruh instansi pemerintah di wilayah kecamatan, penyelenggaraan ketenteraman dan ketertiban, penegakan peraturan perundang-undangan, pembinaan penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan, serta pelaksanaan tugas pemerintahan lainnya yang belum dilaksanakan oleh pemerintahan desa/kelurahan dan/atau instansi pemerintah lainnya di wilayah kecamatan. Oleh karena itu, kedudukan camat berbeda dengan kepala instansi pemerintahan lainnya di kecamatan, karena penyelenggaraan tugas instansi pemerintahan lainnya di kecamatan harus berada dalam koordinasi Camat. Camat sebagai perangkat daerah juga mempunyai kekhususan dibandingkan dengan perangkat daerah lainnya dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya untuk mendukung pelaksanaan asas desentralisasi. Kekhususan tersebut yaitu adanya suatu kewajiban mengintegrasikan nilai-nilai sosio kultural, menciptakan stabilitas dalam dinamika politik, ekonomi dan budaya, mengupayakan terwujudnya ketentraman dan ketertiban wilayah sebagai perwujudan kesejahteraan rakyat serta masyarakat dalam kerangka membangun integritas kesatuan wilayah. Dalam hal ini, fungsi utama camat selain memberikan pelayanan kepada masyarakat, juga melakukan tugas-tugas pembinaan wilayah.
       Secara filosofis, kecamatan yang dipimpin oleh Camat perlu diperkuat dari aspek sarana prasarana, sistem administrasi, keuangan dan kewenangan bidang pemerintahan dalam upaya penyelenggaraan pemerintahan di kecamatan sebagai ciri pemerintahan kewilayahan yang memegang posisi strategis dalam hubungan dengan pelaksanaan kegiatan pemerintahan kabupaten/kota yang dipimpin oleh bupati/wali kota. Sehubungan dengan itu, Camat melaksanakan kewenangan pemerintahan dari 2 (dua) sumber yakni: pertama, bidang kewenangan dalam lingkup tugas umum pemerintahan; dan kedua, kewenangan bidang pemerintahan yang dilimpahkan oleh bupati/wali kota dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.
       Dengan demikian, peran Camat dalam penyelenggaraan pemerintahan lebih sebagai pemberi makna pemerintahan di wilayah kecamatan, Atas dasar pertimbangan demikian, maka Camat secara filosofis pemerintahan dipandang masih relevan untuk menggunakan tanda jabatan khusus sebagai perpanjangan tangan dari bupati/wali kota di wilayah kerjanya (Penjelasan Umum PP. 19 Tahun 2008).
       Di kabupaten Mamasa memiliki 17 kecamatan diantaranya kecamatan Messawa, kecamatan sumarorong, kecamatan Nosu, kecamatan Pana, kecamatan Tabang, kecamatan Tanduk kalua, kecamatan Balla, kecamatan Mamasa, kecamatan sesena padang, kecamatan tawalian, kecamatan rante bulahan, kecamatan bambang buda, kecamatan mambi, kecamatan buntu malangka, kecamatan aralle, kecamatan Tabulahan.
       Pada sebuah organisasi pemerintahan, kesuksesan atau kegagalan dalam pelaksanaan tugas dan penyelenggaraan pemerintahan, dipengaruhi oleh kepemimpinan, melalui kepemimpinan dan didukung oleh kapasitas organisasi pemerintahan yang memadai, maka penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik (Good Governance) akan terwujud, sebaliknya kelemahan kepemimpinan merupakan salah satu sebab keruntuhan kinerja birokrasi di Indonesia. (Istianto, 2009:2) Kepemimpinan (leadership) dapat dikatakan sebagai cara dari seorang pemimpin (leader) dalam mengarahkan, mendorong dan mengatur seluruh unsur-unsur di dalam kelompok atau organisasinya untuk mencapai suatu tujuan organisasi yang diinginkan sehingga menghasilkan kinerja pegawai yang maksimal. Dengan meningkatnya kinerja pegawai berarti tercapainya hasil kerja seseorang atau pegawai dalam mewujudkan tujuan organisasi.
       Di kecamatan tanduk kalua terdiri dari 11 desa diantaranya: Desa Bala Batu, desa Kanan, desa Malabo, desa Mannababa, desa Mesakada, desa Pambe, desa Parondo bulawan, desa Salurano, desa SindagaManik, desa Talimbung, desa tamalantik dan 1 kelurahan yaitu kelurahan Minake Dengan jumlah pendduk +/- 18.000 jiwa.
       Kepemimpinan yang ada di Kantor Camat Tandukkalua Kabupaten Mamasa dipimpin oleh seorang Camat yang membawahi 35 orang pegawai, membutuhkan kepemimpinan yang baik sehingga Kantor Camat Tandukkalua kabupaten Mamasa dapat menciptakan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat yang ada di wilayah tersebut.
             Di dalam kehidupan ini manusia tidak bisa hidup sendiri sehingga disebut makhluk sosial yang hidupnya saling berdampingan dan membutuhkan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Dengan hidup yang saling bergantungan tersebut sehingga membentuk manusia kedalam sesuatu kelompok. Suatu kelompok tersebut mempunyai tujuan yang sama, dalam hal ini disebut organisasi.
Suatu organisasi pada dasarnya adalah suatu bentuk kerjasama antar dua orang atau lebih. Baik yang disebut orang ataupun kelompok, tujuannya adalah untuk mencapai sesuatu  yang      efektif. Kepemimpinan merupakan kebutuhan mutlak yang harus dimiliki karena kepemimpinan sebagai penggerak roda organisasi, yang dilakukan dengan meyakinkan bawahannya agar bekerja dengan baik untuk mencapai tujuan organisasi.
       Menurut Sondang P. Siagian (1991 : 24), kepemimpinan adalah kemampuan dan ketrampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai pemimpin satuan kerja untuk mempengaruhi perilaku orang lain terutama bawahannya untuk berfikir, bertindak sedemikian rupa sehingga melalui fikiran yang positif, memberikan sumbangsih nyata dalam mencapai tujuan organisasi. Sedangkan menurut Terry dan Frankin dalam Yuli (2005 : 165), mendefinisikan Kepemimpinan dengan hubungannya dimana seorang pemimpin mempengaruhi orang lain untuk mau bekerja sama melaksanakan tugas-tugas yang saling berkaitan guna mencapai tujuan yang diinginkan pemimpin dan bawahannya. Cara pemimpin mempengaruhi bawahannya dapat bermacam-macam antara lain dengan memberikan tanggung jawab, memberikan perintah, melimpahkan wewenang, mempercayakan bawahan, memberikan penghargaan, memberikan kedudukan dan memberikan tugas.
       Keberhasilan dan kegagalan pemimpin ditentukan oleh gaya bersikap dan bertindak. Gaya bersikap dan bertindak akan tampak dari cara melakukan sesuatu pekerjaan, salah satunya adalah dengan cara mendorong para pegawai agar dapat bekerja dengan efektif sehingga tercapainya tujuan organisasi yang diinginkan. Dengan demikian dibutuhkan kerja sama yang baik antar pemimpin dan para pegawainya.
Pemimpin di setiap organisasi memerlukan dan mengharapkan sejumlah pegawai yang cakap dan terampil di bidang pekerjaannya, sebagai seorang yang membantunya dalam melaksanakan tugas-tugas yang menjadi beban kerja unit masing-masing. Dalam arti seorang pemimpin menginginkan sejumlah pegawai yang efektif dalam melakukan        pekerjaannya.
       Kepemimpinan akan berlangsung efektif bilamana mampu memenuhi fungsinya. Maksud fungsi di sini adalah jabatan (pekerjaan) yang dilakukan atau kegunaan sesuatu hal atau kerja suatu bagian tubuh (Veitsal Rivai, 2004:53). Untuk itu setiap pemimpin harus mampu menganalisa situasi sosial kelompok atau organisasinya, yang dapat di manfaatkan dalam mewujudkan fungsi kepemimpinan dengan kerja sama dan bantuan orang-orang yang dipimpinnya. Fungsi kepemimpinan itu berhubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan organisasinya masing-masing, yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada di dalam bukan di luar situasi itu. Pemimpin harus berusaha agar menjadi bagian di dalam situasi kelompok atau organisasinya (Nawawi 2000:74). Pemimpin yang membuat keputusan dengan memberikan situasi kelompok atau organisasi akan dirasakan sebagai keputusan bersama yang menjadi tanggung jawab bersama pula dalam melaksanakannya. Dengan demikian akan terbuka peluang bagi pemimpin untuk mewujudkan fungsi-fungsi kepemimpinan sejalan dengan situasi sosial yang dikembangkannya. Oleh karena itu fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam interaksi antar individu di dalam situasi sosial suatu kelompok/organisasi.
Di lain pihak, seorang pemimpin harus berani dan mampu mengambil tindakan terhadap para pegawainya yang malas dan berbuat salah sehingga merugikan organisasi, dengan jalan memberikan teguran dan hukuman yang setimpal dengan kesalahannya. Untuk melaksanakan fungsi-fungsi ini sebaiknya seorang pemimpin perlu menyelenggarakan daftar kecakapan dan kelakuan baik bagi semua pegawai sehingga tercatat semua hadiah dan hukuman yang telah di berikan kepada mereka.
Fungsi kepemimpinan adalah menggerakkan orang yang dipimpin menuju tercapainya tujuan organisasi. Agar dapat menanamkan kepercayaan pada orang yang dipimpinnya dan menyadarkan bahwa mereka mampu berbuat sesuatu dengan baik. Disamping itu, pemimpin harus memiliki pikiran, tenaga dan kepribadian yang dapat menimbulkan kegiatan dalam hubungan antar manusia. Selanjutnya menurut Yuki (1998), fungsi kepemimpinan adalah usaha untuk mempengaruhi dan mengarahkan para pegawainya untuk bekerja keras, memiliki semangat tinggi, dan memotivasi tinggi guna mencapai tujuan organisasi. Fungsi kepemimpinan adalah usaha untuk memandu, menuntun, membimbing, memberi atau membangunkan motivasi-motivasi kerja, menjalin hubungan komunikasi yang baik dalam memberikan pengawasan yang efisien dan membawa para bawahannya kepada sasaran yang ingin di tuju sesuai dengan kriteria dan waktu yang telah ditetapkan. (Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan 2005:93). Selain itu, fungsi kepemimpinan adalah mempengaruhi dan mengarahkan individu atau kelompok yang bertujuan untuk membantu organisasi bergerak kearah pencapaian tujuan. Dengan demikian inti kepemimpinan bukan pertama-tama terletak pada kedudukannya dalam organisasi, melainkan bagaimana pemimpin melaksanakan fungsinya sebagai            pemimpin.
        Setiap organisasi selalu dihadapkan pada persoalan keterbatasan sumber daya manusia dalam mencapai tujuannya. Interaksi antara berbagai sumber daya tersebut hams dikelola dengan baik agar dapat mencapai sasarannya secara efektif. Efektivitas kerja dapat didefenisikan sebagai kemampuan melakukan sesuatu secara benar dan sebagai kemampuan melakukan sesuatu tepat pada sasaran.
       Efektivitas merupakan unsur pokok aktivitas organisasi dalam mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Bila dilihat dari aspek keberhasilan pencapaian tujuan, maka efektivitas adalah memfokuskan pada tingkat pencapaian terhadap tujuan organisasi. Selanjutnya ditinjau dari aspek ketepatan waktu, maka efektivitas adalah tercapainya berbagai sasaran yang telah ditentukan tepat pada waktunya dengan menggunakan sumber-sumber terkait yang telah dialokasikan untuk melakukan berbagai kegiatan. Menurut Siagian (2000:56), efektivitas kerja adalah penyelesaian pekerjaan tepat waktu yang telah ditetapkan. Artinya apakah pelaksanaan tugas dinilai baik atau tidak, sangat tergantung bila tugas itu diselesaikan atau tidak, terutama menjawab pertanyaan dan bagaiman cara melaksanakan dan berapa biaya anggaran yang dikeluarkan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dapat disimpulkan bahwa efektivitas kerja adalah kemampuan kerja bagi pegawai untuk dapat bekerja secara maksimal dengan membawa keuntungan bagi organisasi dan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jadi, apabila kepemimpinan camat mampu meningkatkan efektivitas kerja para pegawainya maka, organisasi tersebut akan mendapatkan keuntungan terhadap pencapaian tujuan dengan waktu yang singkat dalam bekerja dan perolehan hasil kerja yang singkat. Apabila usaha-usaha positif tersebut untuk meningkatkan efektivitas kerja pegawai telah dilakukan, maka hal itu akan memberikan nilai tambah terhadap kepemimpian camat itu sendiri.
       Kecamatan Tandukkalua Kabupaten Mamasa adalah salah satu instansi pemerintahan. Camat adalah perangkat pemerintahan wilayah kecamatan yang menyelenggarakan pelaksanaan tugas pemerintahan diwilayah kecamatan Tandukkalua yang bekerja untuk masyarakat sudah seharusnya memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Untuk mendapatkan pelayanan yang baik, pegawai Kantor Camat Tandukkalua harus dapat bekerja seefektif mungkin dalam menjalankan tugasnya. Namun, yang sering terjadi sering sekali para pegawai datang terlambat ke kantor pada jam yang telah ditentukan, bahkan meninggalkan kantor sebelum jam kerja berakhir. Disinilah dituntut kepemimpinan dan peranan Camat dalam mengelola para pegawainya untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab, agar dapat bekerja dengan efektif demi terwujudnya tujuan organisasi yang diinginkan.
Untuk mencapai efektivitas kerja yang diinginkan, camat Tandukkalua harus dapat menjalankan peran dan tugasnya dengan baik dan diharapkan adanya hubungan komunikasi yang baik antara pemimpin dengan bawahannya sehingga para pegawai dapat bekerja dengan sebaik-baiknya. Camat dan para pegawainya harus saling bekerja sama dalam usaha pencapaian tujuan tersebut.         
       Oleh sebab itu dalam kesempatan ini penulis mengupayakan suatu kajian ilmiah dalam judul proposal penelitian  " Analisis Kepemimpinan dan Pengawasan Camat Terhadap Kinerja Pegawai di Kecamatan Tandukkalua Kabupaten Mamasa".


B. Rumusan Masalah
1.  Bagaimana kepemimpinan camat di kecamatan tandukkalua?
2.  Bagaimana pengawasan camat terhadap kinerja pegawai di kecamatan Tandukkalua kabupaten mamasa?
C.   Tujuan Penelitian
       Tujuan penelitian ini dilakukan guna agar nantinya kita dapat mengetahui hal-hal yang menjadi inti pembahasan dalam Skripsi ini diantaranya:
1.    Untuk mengetahui kepemimpinan camat di kecamatan Tandukkalua.
2.    Untuk mengetahui Peranan camat terhadap pengawasan kinerja pegawai di kecamatan tandukkalua.
D.   Manfaat Penelitian
       Dalam penulisan Skripsi ini ada dua manfaat yg mungkin bias kita dapatkan diantaranya yaitu:
1.    Manfaat teoritis
        Bagi penulis, berharap dari penelitian ini akan mampu menambah wawasan serta lebih mengerti dan memahami teori-teori yang didapat selama proses perkuliahan dimana berhubungan dengan ilmu pemerintahan.
2.    Manfaat praktis
a.    penelitian ini dapat menambah referensi yang ada dan dapat  digunakan oleh semua pihak yang membutuhkan. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terutama dalam ilmu pemerintahan.
b.    Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan kepustakaan yang merupakan informasi tambahan yang berguna bagi pembaca dan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak- pihak yang mempunyai permasalahan yang sama atau ingin mengadakan penelitian lebih lanjut.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   Konsep dasar kepemimpinan
1.    Kepemimpinan
1.1.        Defenisi kepemimpinan
       Rivai (2003) menggambarkan bahwa kepemimpinan merupakan masalah manusia yang bersifat unik. Masalahnya tidak sekedar menyentuh kehidupan manusia individu, tetapi juga sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu setiap proses kepemimpinan dalam keunikannya masing-masing , tidak dapat melepaskan diri dari kondisi yang bersifat dan bernilai manusiawi.
1.2.        Fungsi kepemimpinan
       Fungsi kepemimpinan berhubungan dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok/organisasi dimana fungsi kepemimpinan harus diwujudkan dalam interaksi antar individu. Menurut Rivai (2005:53) secara operasional fungsi pokok kepemimpinan dapat dibedakan sebagai berikut :
1.    Fungsi Instruktif
       Fungsi ini bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak yang menentukan apa, bagaimana, bilamana, dan dimana perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif. Kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan untuk menggerakkan dan memotivasi orang lain agar mau melaksanakan perintah.
2.    Fungsi  konsultatif
       Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerapkali memerlukan bahan pertimbangan yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya yang dinilai mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukan dalam menetapkan keputusan. Tahap berikutnya konsultasi dari pimpinan pada orang-orang yang dipimpin dapat dilakukan setelah keputusan ditetapkan dan sedang dalam pelaksanaan. Konsultasi itu dimaksudkan untuk memperoleh masukan berupa umpan balik (feedback) untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan. Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusan-keputusan pimpinan, akan mendapat dukungan dan lebih mudah menginstruksikannya sehingga kepemimpinan berlangsung efektif.

3.    Fungsi partisipasi
       Dalam menjalankan fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilakukan secara terkendali dan terarah berupa kerjasama dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain. Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai pemimpin dan bukan pelaksana.
4.    Fungsi delegasi
        Fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat atau menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti kepercayaan.Orang-orang penerima delegasi itu harus diyakini merupakan pembantu pemimpin yang memiliki kesamaan prinsip, persepsi dan aspirasi.
5.    Fungsi pengendalian
       Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses/efektif mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Fungsi pengendalian ini dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.
2.    Kepemimpinan camat
2.1.  Fungsi kepemimpinan camat terhadap kinerja pegawai
       Kepemimpinan merupakan kebutuhan mutlak yang harus dimiliki karena kepemimpinan sebagai penggerak roda organisasi, yang dilakukan dengan meyakinkan bawahannya agar bekerja dengan baik untuk mencapai tujuan organisasi. Pemimpin di setiap organisasi memerlukan dan mengharapkan sejumlah pegawai yang cakap dan terampil di bidang pekerjaannya, sebagai seorang yang membantunya dalam melaksanakan tugas-tugas yang menjadi beban kerja masing-masing pegawai.
       Dalam arti seorang pemimpin menginginkan sejumlah pegawai yang efektif dalam melakukan pekerjaannya Kepemimpinan akan berlangsung efektif bilamana mampu memenuhi fungsinya. Maksud fungsi disini adalah jabatan dari pekerjaan yang dilakukan. Untuk itu setiap pemimpin harus mampu menganalisa situasi sosial kelompok organisasinya, yang dapat dimanfaatkan dalam mewujudkan fungsi kepemipinan yakni dengan cara kerja sama. Fungsi kepemimpinan itu berhubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan organisasinya, yang mengusyaratkan bahwa setiap pemimpin berada dalam situasi sosial tersebut. Pemimpin harus berusaha agar menjadi bagian dalam situasi kelompok oganisasinya. Efektivitas kerja pegawai merupakan suatu uasaha pegawai untuk mencapai tujuan organisasi yang sesuia dengan standar organisasi.
B.   Konsep Dasar Peranan
       Peranan adalah suatu konsep prihal apa yang dapat dilakukan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat, peranan meliputi norma yang dikembangkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat, peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan. Menurut Biddle dan Thomas, peranan adalah serangkaian rumusan yang membatasi perilaku, perilaku yang diharapkan dari pemegang kedudukan tertentu. Misalnya dalam keluarga, perilaku ibu dalam rumatangga bisa memberi anjuran, memberi penilain, memberi sangsi dan lain sebagainya.



C.   Konsep dasar camat sebagai pengawas kinerja
1.     Camat
1.1.      Pengertian camat
       Camat adalah pemerintah kecamatan yang mempunyai kedudukan  dan kewenangan dalam mewujudkan dan mengarahkan pelaksanaan penyelenggaraan pelayanan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
1.2.        Pengertian  pengawasan
       Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut. Controlling is the process of measuring performance and taking action to ensure desired results. Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah direncanakan . The process of ensuring that actual activities conform the planned activities.
       Pengawasan pada dasarnya diarahkan sepenuhnya untuk menghindari adanya kemungkinan penyelewengan atau penyimpangan atas tujuan yang akan dicapai. melalui pengawasan diharapkan dapat membantu melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan secara efektif dan efisien. Bahkan, melalui pengawasan tercipta suatu aktivitas yang berkaitan erat dengan penentuan atau evaluasi mengenai sejauhmana pelaksanaan kerja sudah dilaksanakan. Pengawasan juga dapat mendeteksi sejauhmana kebijakan pimpinan dijalankan dan sampai sejauhmana penyimpangan yang terjadi dalam pelaksanaan kerja tersebut.
       Konsep pengawasan demikian sebenarnya menunjukkan pengawasan merupakan bagian dari fungsi manajemen, di mana pengawasan dianggap sebagai bentuk pemeriksaan atau pengontrolan dari pihak yang lebih atas kepada pihak di bawahnya. Dalam ilmu manajemen, pengawasan ditempatkan sebagai tahapan terakhir dari fungsi manajemen. Dari segi manajerial, pengawasan mengandung makna pula sebagai:
pengamatan atas pelaksanaan seluruh kegiatan unit organisasi yang diperiksa untuk menjamin agar seluruh pekerjaan yang sedang dilaksanakan sesuai dengan rencana dan peraturan”.
atau
suatu usaha agar suatu pekerjaan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan, dan dengan adanya pengawasan dapat memperkecil timbulnya hambatan, sedangkan hambatan yang telah terjadi dapat segera diketahui yang kemudian dapat dilakukan tindakan perbaikannya”.
       Sementara itu, dari segi hukum administrasi negara, pengawasan dimaknai sebagai
proses kegiatan yang membandingkan apa yang dijalankan, dilaksanakan, atau diselenggarakan itu dengan apa yang dikehendaki, direncanakan, atau diperintahkan”.

1.3.      Fungsi camat terhadap pengawasan kinerja
       Fungsi pengawasan camat dapat menunjukkan sampai di mana terdapat kecocokan maupun ketidak cocokan dan menemukan penyebab ketidak cocokan yang muncul. Dalam konteks membangun manajemen pemerintahan publik yang bercirikan good governance (tata kelola pemerintahan yang baik), pengawasan camat merupakan aspek penting untuk menjaga fungsi pemerintahan kecamatan berjalan sebagaimana mestinya. Dalam konteks ini, pengawasan camat terhadap kinerja sanagt penting untuk mewujudkan  good governance itu sendiri.
        Dalam kaitannya dengan akuntabilitas publik, pengawasan camat  merupakan salah satu cara untuk membangun dan menjaga legitimasi warga masyarakat terhadap kinerja pemerintahan dengan menciptakan suatu sistem pengawasan yang efektif, baik pengawasan intern (internal control) maupun pengawasan ekstern (external control). Di samping mendorong adanya pengawasan masyarakat (social control).
D.   Konsep dasar kinerja pegawai
1.    Kinerja pegawai
1.1.    Pengertian kinerja pegawai
         Pengertian kinerja menurut Siswanto (2002:235) menyatakan bahwa kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan kepadanya.
       Sedangkan pengertian kinerja menurut Anwar Prabu (2003:355 kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan.
Selanjutnya Rivai (2005:309) mengatakan bahwa kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan. Pengertian kinerja juga dikemukakan oleh beberapa ahli manajemen dalam (Tika, 2006:121) antara lain sebagai berikut:
Ø Prawiro Suntoro; mengemukakan bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi dalam periode tertentu.
Ø Handoko mendefinisikan kinerja sebagai proses dimana organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan.
        Berdasarkan beberapa definisi tersebut, penulis mengambil kesimpulan tentang definisi dari kinerja seseorang pegawai adalah sebagai hasil pekerjaan atau kegiatan seorang pegawai secara kualitas dan kuantitas dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan kepadanya.
1.2.        Pengukuran kinerja pegawai
       Pengukuran Kinerja Pegawai Menurut Agus Dharma (2003:355) mengatakan hampir semua cara pengukuran kinerja mempertimbangkan Hal-hal sebagai berikut:
Ø  kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai.
Ø  kualitas, yaitu mutu yang harus dihasilkan (baik tidaknya). Pengukuran kualitatif keluaran mencerminkan pengukuran atau tingkat kepuasan yaitu seberapa baik penyelesaiannya.
Ø  ketepatan waktu, yaitu sesuai tidaknya dengan waktu yang direncanakan.
         Sedangkan menurut Mathis (2002:78) yang menjadi indikator dalam mengukur kinerja atau prestasi karyawan adalah sebagai berikut:
Ø  kuantitas kerja, yaitu volume kerja yang dihasilkan dalam kondisi normal.
Ø  kualitas kerja, yaitu dapat berupa kerapian ketelitian dan keterkaitan hasil dengan tidak mengabaikan volume pekerjaan.
Ø  pemanfaatan waktu, yaitu penggunaan masa kerja yang disesuaikan dengan kebijaksanaan perusahaan atau lembaga pemerintahan.
Ø  kerjasama, yaitu kemampuan menangani hubungan dengan orang lain dalam pekerjaan.
        Sedangkan menurut Mathis (2002:78) yang menjadi indikator dalam mengukur kinerja atau prestasi karyawan adalah sebagai berikut:
Ø  kuantitas kerja, yaitu volume kerja yang dihasilkan dalam kondisi normal.
Ø  kualitas kerja, yaitu dapat berupa kerapian ketelitian dan keterkaitan hasil dengan tidak mengabaikan volume pekerjaan.
Ø  pemanfaatan waktu, yaitu penggunaan masa kerja yang disesuaikan dengan kebijaksanaan perusahaan atau lembaga pemerintahan.
Ø  kerjasama, yaitu kemampuan menangani hubungan dengan orang lain dalam pekerjaan.
2.    Hak dan kewajiban pegawai
2.1.    Hak pegawai
       Dalam pelaksanaan tugas kepegawaian seorang pegawai juga mempunyai hak. Yang menjadi hak para pegawai dalam menjalankan tugasnya adalah sebagai berikut:
Ø  Setiap Pegawai Negeri Sipil berhak memperoleh gaji yang layak sesuai dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya.
Ø  Pada dasarnya setiap Pegawai Negeri Sipil beserta keluarganya harus dapat hidup layak dari gajinya, sehingga dengan demikian ia adapat memusatkan perhatian dan kegiatannya untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya.
Ø  Setiap Pegawai Negeri Sipil berhak atas cuti. Yang dimaksud dengan cuti adalah tidak masuk kerja yang diizinkan dalam jangka waktu tertentu
Ø  Setiap Pegawai Negeri Sipil yang ditimpa oleh sesuatu kecelakaan dalam dan karena menjalankan tugas kewajibannya, berhak memperoleh perawatan.
Ø  Setiap Pegawai Negeri Sipil yang tewas, keluarganya berhak memperoleh uang duka dan yang dimaksud dengan tewas adalah :
1.    Meninggal dunia dalam dan karena menjalankan tugas dan kewajibannya.
2.    Meninggal dunia dalam keadaan lain ada hubungannya dengan dinasnya, sehingga kematian itu disamakan dengan meninggal dunia dalam dan karena menjalankan tugas dan kewajibannya.
3.    Meninggal dunia yang langsung diakibatkan oleh luka atau cacat jasmani atau rohani yang didapat dan karena menjalankan tugas kewajibannya.
4.    Meninggal dunia karena perbuatan anasir yang tidak bertanggung jawab ataupun sebagai akibat tindakan anasir itu. Kepada istri/suami dan atau anak Pegawai Negeri Sipil yang tewas akan diberikan uang duka.
5.    Setiap Pegawai Negeri Sipil yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, berhak atas pensiun. Pensiun adalah jaminan hari tua dan sebagai balas jasa terhadap setiap Pegawai Negeri Sipil yang bertahun tahun mengabdikan dirinya kepada Negara.
2.2.      Kewajiban pegawai
       Dalam menjalankan tugas pegawai sangat terikat dari yang namanya kewajiban. Berikut ini beberapa kewajiban utama para pegawai dalam menjalankan tugasx sebagai pegawai:
Ø  Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah.
Ø  Mengutamakan kepentingan Negara diatas kepentingan golongan atau diri sendiri serta menghindarkan segala sesuatu yang dapat mendesak kepentingan Negara oleh kepentingan golongan, diri sendiri, atau pihak lain.
Ø  Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat Negara, Pemerintah dan Pegawai Negeri Sipil.
Ø  Mengangkat dan mentaati Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil dan Sumpah/Janji jabatan berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku
Ø  Menyimpan rahasia Negara atau rahasia Jabatan dengan sebaik-baiknya.
Ø  Memperhatikan dan melaksanakan segala ketentuan Pemerintah baik langsung menyangkut tugas kedinasannya maupun yang berlaku secara umum.
Ø  Melaksanakan tugas kedinasan dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab.
Ø  Bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan Negara.
Ø  Memelihara dan meningkatkan keutuhan, kehormatan dan kesatuan Korps Pegawai Negeri Sipil.
Ø  Segera melaporkan kepada atasannya apabila mengetahui ada hal-hal yang akan membahayakan tau merugikan Negara/Pemerintah, terutama dibidang keamanan, keuangan dan material.
Ø  Menciptakan dan memelihara suasana kerja yang baik.
Ø  Memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya kepada masyarakat
Ø  Bersikap dan bertindak tegas, tetapi adil dan bijaksana terhadap bawahannya.
Ø  Membimbing bawahannya dalam melaksanakan tugasnya
Ø  Menjadi dan memberikan contoh serta teladan yang baik terhadap bawahannya
Ø  Mendorong bawahanya untuk meningkatkan prestasi kerjanya
Ø  Memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan karirnya
Ø  Mentaati ketentuan Peraturan Perundang-undangan tentang Perpajakan
Ø  Berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun terhadap masyarakat, sesama Pegawai Negeri Sipil dan terhadap atasan.
Ø  Hormat Menghormati antara sesama warga Negara yang memeluk agama / kepercayaan terhadap tuhan Yang Maha Esa, ataupun yang berlainan.
Ø  Menjadi teladan sebagai warga negara yang baik dalam masyrakat
Ø  Mentaati segala peraturan Perundang-undangan dan peraturan Kedinasan yang berlaku
Ø  Mentaati perintah kedinasan dari atasan yang berwenang
Ø  Memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya setiap laporan yang diterima mengenai pelanggaran disiplin. 
E.     Kerangka pikir
1.    Kepemimpinan camat mempunyai peran penting dalam  mewujudkan pemerintahan yang baik pada tingkat kecamatan. Selain itu, kepemimpinan camat juga sangat berpengaruh terhadap kinerja pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang efektif
2.    Pengawasan terhadap kinerja pegawai merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi pada tingkat pemerintahan kecamatan. Semua fungsi manajemen yang lain, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Dalam hal ini, Louis E. Boone dan David L. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai: “the process by which manager determine wether actual operation are consistent with plans”. (proses dimana manajer menentukan operasi aktual cuaca konsisten dengan rencana)
3.    kinerja pegawai merupakan dampak dari peranan camat sebagai pemimpin dan pengawas terhadap apa yang menjadi tugas yang akan dilaksanakan oleh pegawai yang ada di kantor kecamatan, yang kemudian akan mempunyai output terhadap masyarakat.
Kepemimpinana camat
·         Tindakan dalam menjalankan tugas
·         Sikap dalam memimpin
·         Perilaku seorang pemimpin
·         Nilai-nilai yang dianut
skema kerangka pikir


Pengawasan camat
·      Penetapan standar kerja
·      Pengukuran hasil kerja
·      Tindakan koreksi/perbaikan
·      Kemampuan kerja

 






BAB III
METODE PENELITIAN
A.   lokasi dan waktu penelitian
1.    Lokasi
       penelitian ini akan dilaksanakan pada kantor kecamatan tandukkalua kabupaten Mamasa.
2.    Waktu
       Waktu penelitian akan dimulai dari bulan April sampai bulan Mei  2013
B.   Jenis dan desain penelitian
       Dalam skripsi ini mengkaji mengenai kepemimpinan camat, peranan camat sebagai pengawas serta kinerja pegawai, dengan demikian, skripsi ini diarahkan pada pengamatan terhadap hubungan atasan dengan bawahannya dalam menjalankan tugas masing-masing, yang berdampak pada publik.
       Skripsi penelitian ini menggunakan desain survey, dengan melakukan pengamatan langsung terhadap apa yang akan menjadi bahan kajian dalam skripsi ini.
      Dalam skripsi penelitian ini yang mengkaji tentang Analisis kepemimpinan dan pengawasan camat terhadap kinerja pegawai perlu didukung data kuantitatif.

C.   Populasi dan sampel
1.    Populasi
       wilayah generalisasi yang merupakan subjek dan objek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu, dengan jumlah populasi 35  pegawai di kantor kecamatan tandukkalua kabbupaten Mamasa.
2.    Sampel
       Diambil dari keseluruhan jumlah pegawai di kantor kecamatan Tandukkalua kabupaten mamasa yaitu 35 orang.
D.   Jenis dan sumber data
1.    Data Primer
       yaitu data yang diperoleh secara langsung dari narasumber dengan menyediakan lembaran kuisioner  tentang responden terhadap Analisis kepemimpinan dan pengawasan camat terhadap  kinerja pegawai.
2.    Data Sekunder
       Yaitu data-data yang didapatkan dari arsip-arsip serta dokumen-dokumen yang ada di kantor kecamatan tandukkalua
E.   Teknik pengumpulan data
        dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data diantaranya yaitu:

1.    Kuesioner
       Yaitu dengan memberikan  daftar pertanyaan kepada responden yang sesuai dengan apa yang menjadi pokok pembahasan (judul penelitian) untuk di isi sesuai dengan permintaan pengguna.
2.    Observasi
       Yaitu dengan turun langsung ke lokasi untuk mengamati secara langsung suatu kegiatan.
3.    Wawancara
       Yaitu dengan melakukan tanya jawab untuk memperoleh keterangan,            informasi       dan            sejenisnya.
4.    Dokumentasi
             Yaitu dengan mengumpulkan, mengelolah, menyimpan, menumukan kembali dan menyebarkan dokumen.
F.    Teknik Analisis Data
       dalam penelitian mendeskripsikan pengetahuan responden tentang  kepemimpinan dan pengawasan camat terhadap kinerja pegawai, dengan analisa “Regresi” yaitu mengukur satu variabel bebas X dan variabel terikat Y atau biasa disebut dengan Regresi Linear sederhana. 
Rumus : Y= a + bX.+ e
Keterangan rumus:  Y = variabel terikat
  a = nilai konstan
  X = variabel bebas
  B = koofisien regresi
G.   Devenisi  Operasional variabel
        Devenisi Opersional variabel yang digunakan peneliti adalah penulis menggunakan variabel kontinum dan variabel diskrit yaitu Analisis kepemimpinan dan Pengawas camat terhadap Kinerja Pegawai di Kantor Kecamatan Tandukkalua.
1.    Kepemimpinan adalah kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.  (Kartono, 2003;21)
Kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus. ( Moejiono, 2002;35) 
2.    pengawasan adalah salasatu fungsi manajemen untuk menjamin keputusan, perencanaan dan pelaksanaan program sesuai dengan tujuan yang diharapkan atau tidak. Pengawasan juga dapat dikatakan bahwa suatu kegiatan yang dilakukan dengan maksud mengetahuai kondisi suatu organisasi.
3.    Kinerja adalah kuantitas dan atau kualitas hasil kerja individu atau sekelompok didalam organisasi didalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang berpedoman pada norma, standar oprasional prosedur, kriteria dan ukuran yang telah ditetapkan atau yang berlaku dalam organisasi.
       




















BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
A.   Profil Lokasi Penelitian
1.    Keadaan Geografis
       Kecamatan tandukkalua adalah salahsatu diantara 17  kecamatan yang ada di kabupaten mamasa, kecamatan Tandukkalua terbagi menjadi 11 desa diantaranya: desa Balabatu, desa Kanan, desa Malabo, desa Mannababa, desa Mesakada, desa Pambe, desa Parondo Bulawan,  desa Salurano, desa Sindagamanik, desa Talimbung, desa Tamalantik 1 kelurahan yaitu kelurahan Minake. Kecamatan ini terletak 16 KM dari pust perkotaan, dengan ketinggian dari permukaan laut 1000 M.
       Kecamatan Tandukkalua dikelilingi oleh beberapa kecamatan lain yang merupakan batas wilayah. Diantaranya;
Ø  Di sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Bambang Buda.
Ø  Di sebelah timur Timur  berbatasan dengan kecamatan Sumarorong.
Ø  Di sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Balla
Ø  Selatan berbatasan dengan kecamatan Orobuah Timur


2.    Keadaan Demografi
2.1.  Penduduk
       Jumlah penduduk yang ada di kecamatan tandukkalua mempunyai jumlah yang lumayan banyak yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan. dalam merincikan jumblah penduduk tersebut dapat di bagi berdasarkan jenis kelamin, seperti pada tabel berikut:
Tabel 1
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
No
Penduduk berdasarkan jenis kelamin
Jumlah
1
Pria
8.064
2
Wanita
10.072
Jumlah Total
18.136
Sumber data: Kantor kecamatan Tandukkalua
3.    Keadaan Ekonomi
       Sebagai pendukung roda perekonomian di wilayah Kecamatan Tandukkalua, tersedia beberapa sarana perekonomian, di mana sebagian warga masyarakat Kecamatan Tandukkalua mempunyai mata pencaharian dengan memanfaatkan sarana-sarana tersebut diantaranya Pasar, Koperasi, Bengkel dan Pertokoan.
      Jumlah dari sarana-sarana tersebut yang digunakan masiarakat setempat,   Dapat dilihat seperti pada tabel berikut:
Tabel 2
Sarana Perekonomian
No
Jenis Sarana Perekonomian
Jumlah
1
Pasar
2
2
Koperasi
12
3
Bengkel
30
4
Pertokoan
67
Jumlah Total
111
Sumber data: Kantor Kecamatan Tandukkalua
4.    Sosial Budaya dan Keagamaan
4.1.    Kesehatan
      Di kecamatan Tandukkalua terdapat beberapa tempat pelayanan masyarakat yang menyangkut kesehatan. Diantaranya dapat dilihat seperti pada tabel berikut:
Tabel 3
Jumlah Tempat Pelayanan Kesehatan
No
Nama Tempat pelayanan kesehatan
Jumlah
1
Rumah sakit umum
1
2
Puskesmas
2
3
puskesmas pembantu (PUSTU)
11
Jumlah Total
14
Sumber data: Kantor Kecamatan Tandukkalua
4.2.    Agama
      Kita ketahui bahwa di Indonesia pada umumnya ada beberapa agama yang di anut, begitupula di kecamatan Tandukkalua ada beberapa tempat peribadatan bagi umat beragama diantaranya: seperti pada tabel berikut;
Tabel 4
Jumlah Tempat Ibadah Berdasarkan Jenisnya
No
Nama Tempat Ibadah
Jumlah
1
Gereja
37
2
Masjid
3
3
Mushollah
2
4
Pura/kuil
1
Jumlah Total
43
Sumber data: Kantor Kecamatan Tandukkalua
4.3. Pendidikan
              Di kecamatan Tandukkalua dalam bidang pendidikan masyarakat mempunyai kesadaran yang baik. Hal ini, dapat dilihat dari jumlah Lembaga pendidikan yang ada di kecamatan tandukkalua  yang dijadikan sebagai sarana dalam menuntut ilmu.
Jenis dan Jumlah Lembaga tersebut dapat dirincikan seperti pada tabel berikut:
Tabel 5
Jumlah Lembaga Pendidikan
No
Pendidikan
Jumlah
1
TK
13
2
SD
11
3
SMP/sederajat
5
4
SMA/sederajat
4
5
SLB
1
6
Perguruan tinggi
1
Jumlah Total
35
                    Sumber data: Kantor Kecamatan Tandukkalua











BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.   Kepemimpinan di Kecamatan Tandukkalua
       Daerah kecamatan merupakan pembagian wilayah administratif di bawah daerah kabupaten/kota yang dipimpin oleh seorang camat. Dalam menjalankan tugasnya, Camat dibantu oleh perangkat kecamatan dan bertanggung jawab kepada Bupati/walikota melalui sekretaris daerah kabupaten/kota. Oleh karena memiliki kedudukan tertinggi di kantor kecamatan, camat merupakan pemimpin dalam organisasi pemerintah kecamatan. Dengan demikian, camat dituntut memiliki gaya kepemimpinan dalam membawa dan mempengaruhi bawahannya agar mampu bekerja sama demi mencapai tujuan organisasi.
      Kecamatan Tandukkalua adalah salah satu instansi pemerintahan di daerah Kabupaten Mamasa, dipimpin oleh seorang Camat bernama Drs. Dellaganna.D yang memimpin 18.273 jiwa dan 4.096 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di 11 desa dan 1 kelurahan di Kecamatan Tandukkalua.
Ø  Tindakan dalam menjalankan tugas
       Dalam menjalankan tugas seorang pemimpin harus mempunyai tindakan untuk mengendalikan kinerja para bawahannya menuju kea rah yang lebi baik, tindakan yang dimasut disini adalah didalam menetukan sebuah keputusan, pemimpin harus berani, tegas, konsisten terhadap keputusan yang telah dibuatnya.
Ø  Sikap dalam memimpin
Pemimpin adalah Seorang Pribadi yang sangat menentukan semua hal bagi suatu umat nya dimana semua kemajuan dan kemunduran atau dampak semua bergantung pada pemimpinnya.
a.    Berkomunikasi Dengan Baik. Pemimpin yang baik dapat memastikan pesan yang disampaikannya diterima oleh setiap orang dalam organisasinya dengan persepsi yang sama dan jelas.
b.    Bersahabat    dan     Membumi Kemampuan untuk menjadi teman yang menyenangkan dapat membantu seorang pemimpin untuk membangun relasi dan mengembangkan semangat tim yang baik.
c.    Membuat        Orang lain     Melakukannya Seorang pemimpin yang baik mampu mendorong orang lain untuk melakukan tugasnya, dan bukan melakukan sendiri semua tugas-tugas itu.
d.    Paham Tentang Bidang Yang Digeluti Tidak hanya sekedar visioner dengan strategi dan arah yang jelas, pemimpin yang baik harus memahami seluk beluk, kekurangan dan kelebihan, risiko serta segala hal tentang bidang yang digeluti.
e.    Jadi     Panutan Pemimpin harus berada di garda terdepan dan memberikan pengaruh yang baik bagi perusahaan dan bawahannya. Dalam segala hal dirinya mampu menjadi teladan.
f.     Mudah            Untuk  Dinilai Berubah-ubah sikap untuk menyamarkan citra diri yang sesungguhnya, bukanlah sikap seorang pemimpin yang baik. Seorang pemimpin mengambil sikap yang jelas tentang bagaimana dia akan mendengarkan, menyampaikan sesuatu, melihat dan menilai sesuatu, serta konsisten dengan sikapnya itu.
g.    Memiliki Kharisma Beriringan dengan citra dan kemampuan berkomunikasi yang baik, pemimpin yang baik memiliki sesuatu yang istimewa di dalam dirinya yang membuat orang lain pun merasakannya.
h.    Sangat Tekun Tidak cukup hanya punya skill, pemimpin yang baik sangat tekun dalam pencapaian tujuan dan visi yang telah ditetapkan. Pemimpin bisa sangat kejam untuk itu, namun pemimpin yang baik melakukannya dengan cara yang sangat bersahabat.
i.      Penuh            Semangat Seorang pemimpin yang baik harus membawa energi yang sangat besar bagi bawahannya, dan selalu mempunyai semangat yang senantiasa dikobarkan dalam setiap tugas yang diberikan, dalam setiap bidang yang ditangani kapanpun dan dimanapun.
Ø  Periaku seorang pemimpin
      seorang pemimpin akan berhasil dalam kepemimpinannya ketika mempunyai perilaku seperti berikut:
a.  Mempunyai seni/kepekaan untuk menggerakan atau memerintah bawahan/karyawannya untuk mencapai tujuan.
b.  Mudah beradaptasi , bergaul serta berkomunikasi dengan orang lain.
c.   Ulet dan tekun.
d.  Banyak hubungan dan relasi.
e.  Lapang dada dan tidak emosiaonal.
f.    Mempunyai sikap loyal, timba balik anara atasan dengan bawahan atau sebaliknya.
g.  Hemat daam arti memiliki kesabaran dan kemampuan daam membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu hanya untuk keperluan yang benar-benar penting.
h.  Mampu menjaga sikap dan perilaku dengan mengikuti norma, atau aturan yang berlaku di masyarakat.
i.    Pandai membawa diri terutama dalam menghasapi situasi atau acara tertentu.(Perilaku yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin atau wirausahawan.
Ø  Nilai-nilai yang dianut
      Nilai-nilai kepemimpinan adalah sejumlah sifat-sifat utama yang      harus dimiliki seorang pemimpin agar kepemimpinannya dapat efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Beberapa nilai kepemimpinan yang perlu dimiliki seorang pemimpin antara lain adalah sebagai berikut:
a.  integritas dan moralitas. Integritas menyangkut mutu, sifat dan keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Moralitas menyangkut ahlak, budi pekerti, susila dan ajaran tentang baik dan buruk.
b.  Tanggungjawab. Pemimpin harus bertanggungjawab atas apa yang dilakukan dan tidak dilakukannya untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam organisasi
c.   Visi pemimpin. Kepemimpinan seorang pemimpin nyaris identik dengan visi kepemimpinannya. Visi adalah arah kemana organisasi dan orang-orang yang dipimpin akan dibawa oleh seorang pemimpin 
d.  Kebijaksanaan. Kebijaksanaan yaitu kearifan seorang pemimpin dalam memutuskan sesuatu sehingga keputusannya adil dan bijaksana. Kebijaksanaan memiliki makna lebih dari kepandaian atau kecerdasan
e.  Keteladan. Keteladanan seorang pemimpin adalah sikap dan tingkah laku yang dapat menjadi contoh bagi orang-orang yang dipimpinnya. Keteladanan berkaitan erat dengan kehormatan,  integritas dan moralitas pemimpin
f.    Menjaga kehormatan. Seorang pemimpin harus menjaga kehormatan dengan tidak melakukan perbuatan tercela karena semua perbuatannya menjadi contoh bagi bawahan dan orang-orang yang dipimpinnya
g.  Beriman. Beriman kepada Tuhan Yang Mahaesa sangat penting karena pemimpin adalah manusia biasa dengan semua keterbatasannya secara fisik, pikiran dan akal budi sehingga banyak masalah yang tidak akan mampu dipecahkan dengan kemampuannya sendiri
h.  Kemampuan berkomunikasi. Antara pemimpin dan yang dipimpin terdapat suatu ikatan kuat sebagai satu keutuhan dan memiliki ketergantungan satu sama lain. Untuk mencapai hal tersebut maka seorang pemimpin harus mampu membangun komunikasi dengan orang-orang yang dipimpinnya sehingga kepemimpinannya dapat efektif dan efisien
i.    Komitmen meningkatkan kualitas SDM. Sumber daya manusia (SDM) adalah faktor strategis dan penentu dalam kemajuan organisasi, dan pemimpin harus memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas SDM.
         Kecamatan Tandukkalua termasuk salah satu daerah yang masih tertinggal di Kabupaten Mamasa. Salah satu indikasinya terletak pada sarana telekomunikasi yang masih sangat jarang disana. Letaknya yang masih di lingkungan pedesaan juga menjadi salah satu indikasinya. Disinilah dibutuhkan sosok seorang pemimpin dalam hal ini seorang Camat agar memiliki kepemimpinan yang unggul sehingga mampu mencuri perhatian pemerintah melalui segala macam prestasi yang dimilikinya.
             Namun berdasarkan isu dan pengamatan penulis di Kantor Kecamatan Tandukkalua, Camat lebih banyak bekerja sendiri dan kurang dalam menjalin hubungan kerja dengan para pegawainya. Oleh sebab itu hubungan Camat dengan para pegawainya menjadi kurang harmonis sehingga Camat belum mampu membangun motivasi para pegawainya untuk bekerja secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan. Hal tersebut dapat terlihat dari semangat kerja para pegawai yang masih sangat kurang yaitu pada saat jam kerja, masih banyak pegawai yang melakukan aktivitas lain di luar kegiatan organisasi, mereka merasa enggan untuk menyumbangkan ide pikiran mereka dalam menunjang kelancaran kegiatan pemerintahan di Kecamatan, serta pada jam masuk dan pulang kerja pegawai tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
             Hal tersebut tentunya berimplikasi luas pada timbulnya kesenjangan antara pemimpin dengan yang dipimpinnya yang berujung pada rusaknya tatanan organisasi di Kantor Kecamatan Tandukkalua dan menyebabkan tidak tercapainya tujuan organisasi yang telah ditentukan. Oleh sebab itu, Camat Tandukkalua perlu menerapkan suatu gaya kepemimpinan yang baik untuk menciptakan keharmonisan dengan para pengikut atau bawahannya sehingga mampu mengendalikan mereka dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pegawai.
            Selain itu Camat tidak mengetahui persis tingkat kebutuhan pegawainya sehingga dalam upaya memberikan motivasi kepada pegawainya melalui persepsinya sendiri tanpa mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan pegawainya baik itu kebutuhan fisiologis maupun psikologis. Maka penulis berasumsi bahwasanya jika Camat menerapkan teori kepemimpinan situasional yang menerapkan gaya kepemimpinan berdasarkan level kematangan dan kebutuhan pegawai, masalah-masalah pemimpin dan yang dipimpin seperti tersebut di atas akan dapat diatasi.
B.   Pengawasan Camat Terhadap Kinerja Pegawai Di kecamatan Tandukkalua
       Pengwasan merupakan suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan tujuan dengan tujuan-tujuan perencanaan, merancang system informasi umpan balik,membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan.
       Pengawasan penting disebabkan karena Perubahan lingkungan  Organisasi, Peningkatan kompleksitas organisasi, Meminimalisasikan tingginya kesalahan-kesalahan, Kebutuhan manager untuk mendelegasikan wewenang, Komunikasi dan Menilai informasi dan mengambil tindakan koreksi.
 Pengawasan camat terhadap kinerja pegawai di kecamatan tandukkalua mencakup:
Ø  Penetapan standar kerja
       Dalam penetapan standar kerja di tingkat kecamatan dibutuhkan pengawasan untuk menjalankan standar yang dimaksud. Berdasarkan peraturan pemerintah Republik Indonesia No 19 Tahun 2008 tentang kecamatan, yang disosialisasikan pada bimbingan teknis pelayanan Administrasi terpadu kecamatan tingkat provinsi Sulawesi Barat tahun 2011. Camat menyelenggarakan tugas umum pemerintahan yang meliputi: kegiatan pemberdayaan masiarakat, upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum, penerapan dan penegakan peraturan perundang-undangan,pemeliharaan prasarana dan fasilitas umum, penyelenggaraan kegiatan pemerintahan di tingkat kecamatan serta pelayanan masyarakat.
Ø  Pengukuran hasil kerja
            Penilaian kinerja yang efektif memerlukan standar kerja yang berkaitan dengan kinerja. Agar supaya penilaian kinerja efektif, maka harus se-suai dengan standar kerja yang bersifat:
1. Relevance (relevansi). Adanya hubungan yang jelas antara standar kerja dengan pekerjaan itu sendiri dan tujuan organisasi, dan hubungan yang jelas antara elemen-elemen pekerjaan kritis yang di identifikasikan melalui analisis pekerjaan dan dimensi-dimensi yang dinilai pada bentuk-bentuk penilaian.
2.  Sensitivity (sensitivitas). Mengimplikasikan bahwa sistem penilaian kinerja mampu membedakan penilaian yang efektif dan yang tidak efektif.
3. Reliability (keandalan). Penilaian kinerja dapat diandalkan baik oleh atasan, rekan sejawat, maupun subordinate (bawahan).
4. Acceptability (penerimaan). Penilaian dapat diterima dan dirasa adil oleh atasan, rekan sejawat maupun bawahan.
5.  Practically (praktis). Menggambarkan bahwa instrumen-instrumen penilaian kinerja mudah dipahami, dimengerti dan digunakan oleh atasan maupun bawahan. Evaluasi terhadap dimensi kinerja meliputi semua unsur dalam pekerjaan masing-masing pegawai. Dimensi ini mencakup berbagai kriteria yang sesuai untuk di gunakan dalam mengukur hasil pekerjaan yang telah diselesaikan.
           Pengukuran kinerja harus disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang akan dinilai sehingga tidak semua kriteria pengukuran kinerja dipergunakan dalam suatu penilaian kinerja pegawai.
pengukuran kinerja adalah mencakup:
1. Quality, yaitu tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan.
2. Quantity, yaitu jumlah yang dihasilkan misalnya jumlah rupiah, jumlah unit, jumlah siklus kegiatan yang diselesaikan. Untuk mengetahui apakah kinerja pegawai telah sesuai dengan sasaran yang diharapkan, sekaligus melihat besarnya penyimpangan dengan cara membandingkan antara hasil pekerjaan secara aktual dengan hasil yang diharapkan maka diperlukan penetapan standar.
Ø  Tindakan koreksi/perbaikan
       Sebagai manusia biasa, utamanya dalam melaksanakan tugas pemerintahan tidak akan lepas dari kesalahan-kesalahan yang bisa berdampak terhadap tugas. Oleh karna itu berdasarkan beberapa standar tugas yang dilakukan oleh pegawai kecamatan perlu mendapatkan koreksi dari pimpinan sebagai pengawas dalam melaksanakan tanggung jawab yang diberikan.
       tujuan ini adalah untuk memperbaiki hal-hal yang dianggap masi menyimpang dari wewenang yang telah diberikan guna untuk kelancaran dalam menjalankan tugas-tugas selanjutnya yang bias mendapatkan pujian dari kalayak.
Ø  Kemampuan kerja
Pegawai  yang memiliki tingkat kemampuan mental tinggi menyatakan prefensi-prefensi mereka terhadap jabatan-jabatan pekerjaan yang sulit. Sedangkan pegawai  yang memiliki kemampuan mental lebih rendah menyatakan prefensi terhadap jabatan-jabatan pekerjaan lebih mudah dan tidak terlalu sulit. Variabel kemampuan kerja, naluri, tingkat aspirasi dan faktor-faktor pribadi seperti umur, pendidikan, latar belakang keluarga, akan menghasilkan prestasi kerja yang berbeda. Kemampuan adalah sifat bawaan lahir atau dipelajari yang memungkinkan seseorang melakukan sesuatu yang bersifat mental dan fisik.            Kemampuan yang menyangkut intelegensi. Intelegensi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan sebaik-baiknya dengan lingkungan. Oleh sebab itu tingkat intelegensi sangat menentukan dalam bekerja.
       Pengamatan penulis tentang Pengawasan camat terhadap kinerja pegawai di kecamatan Tandukkalua berdasarkan beberapa indikator sebagai berikut:
a.  Penetapan standar kerja
       Digunakan sebagai dasar atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan secara tetap. Berdasarkan hal ini, setelah melakukan wawancara dengan sejumlah pegawai di kantor kecamatan Tandukkalua  maka penulis menarik kesimpulan bahwa pengawasan camat tehadap kinerja pegawai melaluai penetapan standar kerja yang telah ditetapkan maka “sesuai” dengan apa yang menjadi penjelasan dari penetapan standar kerja.


b.  Pengukuran hasil kerja
       Berupa proses yang dilakukan berulang-ulang yang continue yang berupa atas pengawasan, laporan, pengujian, dan sampel. Berdasarkan data yang dikumpulkan penulis melaluai wawancara dengan sejumlah pegawai di kantor kecamatan Tandukkalua maka pengawasan pada pengukuran hasil kerja yang dilakukan camat penulis menarik kesimpulan bahwa “Belum” maksimal dilakukan oleh Camat.
c.   Tindakan koreksi /perbaikan
       Bila diketahui dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan dimana perlu ada perbaikan dalam pelaksanaan. hal ini, penulis menarik kesimpulan mengenai pengawasan yang dilakukan camat, bahwa dalam tindakan koreksi/perbaikan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan pegawai di kantor kecamatan Tandukkalua itu suda “maksimal” pengawasannya.
d.  Kemampuan kerja
       Pengawasan camat terhadap kemampuan kerja pegawai di Kantor keamatan tandukkalua, setelah menyimpulkan hasil wawancara maka penulis menarik kesimpulan bahwa pengwasan terhadap hal ini belum dilakukan secara baik oleh Camat, seperti pada poin sebelumnya telah dijelaskan bahwa camat di kantor kecamatan Tandukkalua masi sering bekerja sendiri tanpa melakukan kordinasi dengan bawahannya.
       Berikut ini adlah tabel-tabel hasil penjumlahan dengan menggunakan aplikasi SPSS yang dilakukan penulis.
Tabel 6
Deskripsi Statistik

Deskripsi statistik
Mean
Std. Deviation
N
Kepemimpinana camat
38.8286
.98476
35
Pengawasn terhadap kinerja
34.4286
1.48097
35
      
       Tabel diatas menunjukkan Jumlah responden pada penelitian adalah 35 orang, rata-rata kepemimpinana camat 38,828, rata-rata pengawasan terhadap kinerja 34,4286 sedangkan besar standar devisa untuk kepemimpinan camat 0,984, pengawasan terhadap kinerja 1,480.
Tabel 7
Korelasi

Korelasi
Kepemimpinana camat
Pengawasan terhadap kinerja pegawai
Pearson Correlation
Kepemimpinana camat
1.000
-.331
Pengawasan terhadap kinerja pegawai
-.331
1.000
Sig. (1-tailed)
Kepemimpinana camat
.
.026
Pengawasan terhadap kinerja pegawai
.026
.
N
Kepemimpinana camat
35
35
Pengawasan terhadap kinerja pegawai
35
35
      
       Tabel diatas menjelaskan hubungan antara kedua variabel tentang kepemimpinan dan pengawasan camat terhadap kinerja pegawai di kecamatan tandukkalua
Tabel 8
Variabel Entered/Removed
Model
Variables Entered
Variables Removed
Method
1
X1
.
Enter
a. All requested variables entered. Kepemimpinana camat
b. Dependent Variable: pengawasan terhadap kinerja   pegawai      
       Tabel diatas menunjukkan bahwa variable yang diproses dalam penjumlahan dengan menggunakan analisis regresi sederhana  ini adalah variable X1 yaitu pengawasan camat terhadap kinerja pegawai.
Tabel 9
Model Summary
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1
.331a
.110
.083
.94311
a. Predictors: (Constant), X1
b. Dependent Variable: Y      
       Tabel diatas menunjukkan nilai R yang merupakan symbol dari nilai koofisien korelasi. Jadi dalam hal ini nilai R 0,331 nilai ini dapat di interpretasikan bahwa hubungan kedua variabel penelitian berada di kategori lemah. Tabel ini jg mnunjukkan seberapa bagus model regresi yang dihasilkan oleh interaksi variabel bebas dan variabel terikat nilai R square adalah 0,110, Adjusted R square 0,083.
Tabel 10
Anova
Model
Sum of Squares
Df
Mean Square
F
Sig.
Regression
3.619
1
3.619
4.069
.052a
Residual
29.352
33
.889


Total
32.971
34



a. Predictors: (Constant), X1
b. Dependent Variable: Y
       Tabel diatas menunjukan taraf siknifikan atau linearitas dari regresi, nilai Siq dalam tabel ini 0,052 yang berarti model regresi ini adalah linear, namun tidak memenui kriteria.
Tabel 11
coefficient
      
coefficient
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
46.413
3.763

12.333
.000
Pengawasan terhadap kinerja pegawai
-.220
.109
-.331
-2.017
.052
a. Dependent Variable: pengawasan terhadap kinerja pegawai
        Tabel diatas menginformasikan model persamaan regresi yang diperoleh dengan koefisien konstanta dan koefisien variabel yang ada di kolom Unstandardized Coefficients B. berdasarkan tabel diatas maka dapat diperoleh persamaan regresi Y= a + b X.
       Jadi dengan menngunakan rumus regresi linar sederhana maka didapatkan persamaan Y= 46.413+-0,220X1.


















BAB VI
PENUTUP
A.   Kesimpulan
       kepemimpinan merupakan kunci keberhasilan dalam sebuah organisasi dalam mencapai tujuan, karna pemimpin adalah pemegang sentral dalam organisasi dalam memimpin pemimpin haraus mempunyai kemampuan menggerakan, mengrahkan, mempengarui. Sehingga pegawai mempunyai semangat kerja dan akhirnya mampu berprestasi yang lebih baik.
       Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis iskripsi ini yang mengkaji tentang “Analisis Kepemimpinan Dan Pengawasan Camat Terhadap Kinerja Pegawai Di Kecamatan Tandukkalua” dapat menarik sebuah kesimpulan sebagai berikut:
a.     Camat dalam melakasanakan tugas kepemimpinannya dinilai kurag maksimal karna camat belum menunjukkan kamampuannya untuk mengarahkan, menggerakkan dan mempengaruhi bawahannya dengan tujuan yang telah ditetapkan.
b.     Pengawasan camat terhadap kinerja pegawai di kecamatan Tandukkalua belum berjalan maksimal karna dilihat berdasarkan indikator yang harus diawasi camat masi sebagian di sepelekan.


B.   Saran
       Agar proses pelaksanaan tugas dan wewenang berjalan baik, lancar dan tujuan yang diinginkan tercapai khususnya di tingkat kecamatan maka disarankan
1.    Bagi camat, agar bias menempatkan diri sebagai seorang pemimpin dalam organisasi pemerintahan yang bisa membuahkan hasil positif.
2.    Bagi pembaca, kritikan dan masukan sangat penting jika ingin melihat semsama kita lebih baik. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar